"Yof, besok pagi jam 7 aku hunting di Galesong, mau ikut?"
SMS itu masuk pada hari sabtu malam. Untuk mendapat informasi lebih lanjut gue langsung menelpon temen gue itu. Sedikit informasi ada beberapa orang yang mo hunting ibu-ibu yang sedang hamil untuk keperluan pameran foto dengan tema Perawatan Ibu dan Anak yang disupport oleh Unicef di kota Makassar. Blum ada bayangan gue tentang suasana hunting kaya apa pas malemnya, daripada bengong gue ngikut aja.
Keesokan paginya dijemput dengan oknum J dengan sepeda motornya dan kemudian bergabung degan oknum S,R,dan H. Dengan perjalanan sekitar 30 menit bermotor sampailah di TKP, yaitu di Puskesmas Usila (jangan nambah kata as di depan ya..plis! ). Hmm, gue sangka gue akan berada disuatu pemukiman penduduk, motret keseharian ibu-ibu yang hamil atau ibu-ibu yang sedang merawat anak-anaknya. Ternyata, disitu sudah ada seorang ibu-ibu yang akan melahirkan. Dan kita sudah diberi ijin sebelumnya untuk motret di puskesmas ini. Gubraks, sekali-kalinya gue ngeliat orang ngelahirin cuma di rekaman video temen gue atau paling banter ngeliat kucing gue ngelahirin. Yang cowo-cowo pada santai, gue yang deg2an. Alhamdulillah proses persalinan pun berlangsung lancar, hanya memakan waktu sekitar 10 menit kemudian lahirnya itu bayi. Wuiiiiih pengalaman yang menakjubkan dan jarang-jarang kayanya deh...

Hari masih pagi, awan putih dan langit biru cerah, rasanya sayang kalo hari itu dilewatkan begitu saja. Setelah dirundingkan akhirnya kita mencari obyek foto selanjutnya, yaitu ke pengrajin gerabah. Ternyata mereka semua blm pernah pergi ke tempat itu sebelumnya jadilah beberapa kali kita harus berhenti untuk bertanya dimana lokasi pengrajin itu. Diperkirakan tempat pengrajin itu ada di Kota Takalar, sekitar 1 jam perjalanan dari lokasi semula. Gue sih seneng aja, toh tinggal duduk ini..

Melewati jalan pintas yang sepi dan sempit tapi kaya akan pemandangan yang indah, menghirup udara yang segar dan aroma khas pedesaan.
Memasuki musim penghujan, maka
pemandangan
yang tampak adalah hijaunya sawah,
kebun tebu dan kebun jagung, bahkan ilalang pun tumbuh dengan subur.
Nah di kebun ilalang itupun kami singgah sebentar untuk berfoto-foto narsis.. Hijau-hijau dibawah awan putih dan langit biru merupakan kombinasi yang indah bukan?? :)


Untuk menuju ke tempat TKP kedua tersebut kami melewati rumahnya oknum H. Dan kamipun tak menolak ajakan oknum tersebut untuk beristirahat dan makan siang dirumahnya. Sampai dirumahnya kami pun langsung disuguhkan dengan mangga, bukan satu, dua atau tiga biji, tapi langsung 3 baskom mangga!!.
Wah dipanas yang terik dahaga pun terbalas dengan kesegaran dan kemanisan mangga tersebut.
Rumah si H berada ditengah kebun dan sawah. Ketika yang lain sedang mabuk mangga, gue pun berkeliling melihat sekitar rumah. Yah lumayan buat iseng, ayam dan bebek pun jadi gue jadikan obyek kamera.
Setelah makan siang dan istirahat secukupnya dilanjutkan perjalanan menuju TKP kedua. Setelah tanya sini dan tanya sana sampailah kami di tempat kerajinan tersebut. Banyak yang tidak tau lokasi pasti tempat ini, karena mungkin belum seterkenal seperti daerah Kasongan di Jogya.
Ditempat salah satu pengrajin kami singgah. Dengan mengutus salah satu oknum kami meminta ijin untuk memotret. Jepret sini jepret sana, eh tak lama kemudian muncul seorang bapak-bapak yang bertanya kami ini dari media mana. Dan salah satu oknum ngomong kalo kami ini mahasiswa UNHAS yang lagi mendapat tugas praktek dari kampus. Untuuung tampang gue masih tampang mahasiswa ya.. Ternyata si bapak adalah ketua pengrajin yang ada di daerah itu. Maka kami pun diajak berkeliling dan banyak menjelaskan soal kerajinan ini. Makasiy ya bapak.... :)
Menjelang sore, dan merasa puas
motret maka
kami kembali pulang ke kota Makassar. Namun sebelum pulang mampir dulu makan jagung ketan khas Sulawesi ini yang banyak dijual ditepi jalan. Makan mangga pakai garam dan cabe rawit, makan siang dengan ikan bakar juga dengan garam plus cabe, eh makan ketan juga dengan garam, cabe rawit plus jeruk nipis..waah lumayanlah bisa menaikan tekanan darah gue yang rendah ini.
Memasuki kota makassar hari menjelang matahari terbenam. Sempat berhenti di Tanjung Merdeka untuk motret sunset sebagai penutup sesi hunting hari itu, tapi sayang awan di garis horison sangat tebal hingga tak terlihat batang hidung sang surya. Maka hari itupun harus disudahi sampai disini. Mendapat pengalaman yang menakjubkan dan perjalanan yang seru, serta oleh-oleh sekantong mangga membuat hati gue sangat senang.. Thanks guys..... ditunggu sesi hunting berikutnya !!
Makassar, 02/12/07