Di suatu hari Minggu gue berniat pergi ke Bonbin Ragunan. Ingin menikmati pohon-pohon rindang sambil melihat tingkah polah binatang-binatang dan tak lupa membawa kamera untuk merekam. Berangkatlah gue dengan menggunakan Trans Jakarta. Tetapi ketika sudah diatas Trans baru nyadar kalo hari tersebut pas lagi hari libur anak sekolah. Bener aja, jalan masuk ke Bonbin muaceet banget, banyak orang-orang pada jalan kaki. Berhubung naik Trans ya gak bisa turun seenaknya, apa boleh buat, udah nanggung, pasrah aja kena macet. Sampai akhirnya setelah kena macet sekitar sejam lebih sampai juga di Bonbin.
Syukurlah gue pergi di sore hari, orang-orang sudah banyak yang mulai pulang, gak ngebayangin gue kalo pergi dari pagi ramenya kaya apa. Sampah-sampah pada berserakan. Pasti tidak nyaman.
Walaupun sudah banyak orang-orang yang mulai pulang, tapi masih terlihat ramai buat gue. Akhirnya gue nyari kandang-kandang yang sepi pengunjung saja. Kaki gue membawa gue ke daerah unggas. Eits, nyari tempat sepi salah juga, gak sengaja gue nge 'gap' beberapa pasangan yang lagi asyik berduaan. Sempet muncul niat iseng gue jadi paparazi..hihi.. tapi gak jadi deh. Ora urus ma yang begituan..
Akhirnya kaki gue seret lagi untuk melangkah.. sampai kuping gue mendengar suara-suara berisik. Gue datangi sumber suara, ternyata sekelompok burung Kakak Tua dan Nuri. Lucu dengerin mereka ngoceh, jinak pula. Tapi agak susah buat diambil gambarnya, soalnya mereka malah ngedeketin gue.
Setelah puas sama Kakak Tua, gue baru ngeliat ke sekeliling kandang. Ternyata disitu ada rumah yang dikeliling tanaman-tanaman yang unik. Gue tertarik untuk memotret anggrek, untuk melengkapi koleksi foto bunga anggrek gue sebelumnya. Ketika lagi asyik motret, gue baru sadar ada orang di beranda rumah tersebut setelah dia negur gue. Dia bilang suka ada burung kakak tua liar yang suka terbang di sekitar pohon-pohon tersebut. Dari seragamnya gue liat dia salah satu petugas Bonbin jg.

Akhirnya gue samperin petugas tersebut, sekedar basa basi. Tapi kemudian ekor mata gue menangkap ada singa yang dikandangin di dalam rumah tersebut. Gue tertarik untuk melihat lebih dekat. Si petugas sempet nanya ke gue, motret buat hobby apa lagi mencari berita. Si petugas akhirnya bercerita soal singa-singa yang ada di kandang tersebut. Singa-singa itu bernama Dona dan Doni, diambil dari nama pemain sepak bola. Mereka lahir di Ragunan dari induk singa asli dari afrika generasi ke-9 yang hidup di Ragunan. Umurnya sudah 6 bulan. Tapi sayang sekali, mereka hanya diletakkan di kandang yang berukuran tak lebih dari 1x1,5 m saja, karena tidak ada tempat buat mereka. Makanya si petugas berharap kalo gue dari media bisa membantunya untuk mencarikan donatur untuk membuat kandang yang besar untuk mereka. Kasihan memang melihat Dona dan Doni, mereka hanya bisa tidur-tiduran di kandang, dan hanya bisa menatap dari balik jeruji.. Ah I wish I can help... Or anyone wanna help??
Obrolan gue dengan si petugas pun berlanjut, sampai akhirnya beliau mengajak gue melihat ke halaman belakang rumah tersebut. Ah ternyata di belakang rumah tersebut ada kandang-kandang harimau.

Si petugas memperkenalkan harimau-harimau asuhannya satu persatu. Ada harimau Sumatra, Benggala, dan tutul. Ada yang namanya Margo (umur 1 th, lahir Maret '06), ada Juve dari nama pemain sepak bola juga, ada yang namanya Devil, konon sifatnya sudah kaya setan dan warna bulunya yang kuning lain daripada yang lain. Ada yang punya seorang pejabat, ada yang gigi dan kukunya dicabut karena dijadikan hewan peliharaan rumah. Aneh-aneh saja.

Si petugas ini sudah merawat mereka semenjak lahir, jadi tak heran harimau-harimau tersebut
sudah jinak. Mereka menandak-nandak senang ketika si pengasuh datang menghampiri. Dan si pengasuh pun penuh kasih sayang mengajak ngobrol dan mengelus-elus harimau-harimau tersebut.
Ingatan gue jadi melayang. Mengingat gue sendiri jaman dulu. Dulu gue suka memelihara banyak kucing di rumah. Pernah dalam suatu periode kucing gue sampe 13 ekor!. Gue suka bermain dan bercanda dengan kucing, bahkan curhat segala. Pokoknya kucing penghibur gue di kala suka duka deh. Gak heran, kalo ada kucing gue yang mati, gue bisa nangis semaleman

. Sampai dulu sempet bercita-cita jadi dokter hewan, berhubung dulu gue tinggal di Aceh, susah mencari dokter hewan kalo kucing gue butuh pertolongan.

Anyway busway, back to petugas tadi. Setelah gue perhatiin lagi, ada yang mengganjal di benak gue. Petugas ini sudah tua dan kurus, rambut panjang beruban. Dilihat dari penampilan sih seorang bapak2, tapi kalo mendengar suaranya gue jadi ragu. Suaranya seperti suara perempuan yang berat seperti akibat suka merokok gitu.. Apakah si petugas seorang nenek tomboy? Gue gak berani nanya namanya siapa. Sampai gue pamitpun gue gak nyebut Bapak atau Ibu, takut salah..
Apakah teman-teman ada yang tau siapa dia?
Ah tapi someday gue pengen balik lagi kesana buat ngobrol-ngobrol lagi dengan petugas tersebut dan melihat perkembangan Dona dan Doni..