youfeta's posts with tag: halmahera

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag halmahera
Photo AlbumTidore : Aku Telah Sampai (20 photos)Mar 9, '08 9:00 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sedikit gambaran tentang Wisata di kota Tidore...

.... masih dari perjalanan kemarin




Blog Entry[Catper] Mengembara ke Utara (1)Feb 28, '08 1:03 PM
for everyone

 

Jika aku suka naik gunung, pasti akan kudaki semua gunung yang ada
Jika aku seorang penyelam, aku akan puas menyelami setiap lautan yang indah
Jika aku penyuka sejarah, aku pasti akan betah berlama-lama
Sayang, sementara ini aku hanya seorang pelancong biasa

Jam 3 pagi dibawah rintik-rintik hujan, taxi express membawa gue pergi menuju Bandara. Semakin mendekati bandara hujan pun turun semakin deras. Sedikit perih mata ini menahan kantuk karena semalaman tidak tidur, karena takut kebablasan. Kegiatan packing di last minute gue pilih untuk menjaga agar mata tetap terjaga. Tidak ada yang istimewa dari kegiatan packing tersebut. Yang membedakannya kali ini adalah tidak terselip satupun seragam kerja diantara lipatan baju-baju. Yes, pergi kali ini benar-benar murni buat liburan selama 13 hari. Believe it or not, ini trip liburan panjang pertama gue yang akan gue jalani. Kalo pergi kerja berbulan-bulan mah dah biasa. Rasanya jauuuuh sekali berbeda. Tidak ada beban kerja yang harus dilakukan. Hanya satu yang jadi pikiran gue, semoga saja liburan kali berjalan sesuai dengan rencana. Bagaimana tidak, persiapan matang untuk bisa pergi hanya 2 hari sebelumnya. Ijin cuti yang baru didapat, memilih transportasi sesuai dengan budget serta menyesuaikan jadwal dengan teman-teman seperjalanan cukup bikin pusing. Namun hal-hal seperti inilah yang menimbulkan sensasi kesenangan dalam berpergian bukan?

<Day #1, 04-01-08>  Dan petualanganpun dimulai..

Jam 9.30 WITA, burung besi bernama Lion Air Boing 737-900 itupun mendarat dengan mulus di bandara Sam Ratulangi Manado. Cuaca sungguh berbeda 180 derajat dari Jakarta. Pemandangan diluar jendela sangat cerah, langit biru dan  Gunung Manado Tua serta pulau Bunaken dan Siladen yang tersohor terbentang di lautan menyambut gue sebelum si burung besi mendarat. Hati gue bersorak girang.

Dan hati ini pun bertambah sumringah ketika mendapati salah seorang teman perjalanan (Mr.A) menyambut dengan senyuman dan lambaian tangan di pintu keluar penumpang. Ransel besar yang menempel di punggung menandakan bahwa ia pun siap menemani gue berpetualang. Yes, satu rencana berjalan mulus. Manado adalah titik pertemuan kami, karena A ini berdomisili di Makassar.

Setelah berbincang dan berdiskusi sebentar kami pun memutuskan menggunakan ojeg motor menuju Pelabuhan Bitung, menumpang Kapal Pelni yang akan membawa kami ketempat titik pertemuan kedua dengan seorang teman perjalanan lagi (Mr.E). Mungkin lebih tepatnya si E ini yang akan memimpin perjalanan ini, secara kami ini hanya tim penggembira (atau nyusahin? *uhuk2*) di itinerary yang telah ia buat. Dan kami berdua belum tau sama sekai isi itineray itu sampai kami bertiga bertemu. Jarak antara bandara dan Bitung membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

Atas petunjuk si abang ojeg, sebelum sampai di Pelabuhan kami pun mampir ke kantor Pelni untuk membeli tiket kapal. Waktu untuk membeli tiket kami pikir cuma sebentar, tapi kenyataan yang didapat sungguh berbeda. Suasana di tempat penjualan tiket sudah ramai oleh calon penumpang yang berdiri mengantri di depan loket. Wajah khas orang timur mendominasi ruangan kecil itu. Tubuh kami pun ikut menyempil diantara mereka dan tak lupa siaga dengan barang bawaan, karena copet suka memanfaatkan situasi seperti ini. Selidik punya selidik, terjadi penumpukan colon penumpang yang mengantri dikarenakan loket baru dibuka hari ini, padahal biasanya sehari sebelumnya tiket sudah bisa dibeli. Petugas loket yang hanya dua orang pun tampak kewalahan menangani calon penumpang yang membludak dan gelisah. Para calon penumpang ini bahkan sempat berteriak-teriak protes kepada petugas tiket yang sungguh lamban dalam pelayanan. Ibu-ibu disebelah gue konon sudah menunggu sejak pagi namun sampai saat ini namanya belum dipanggil-panggil jua. Pemberangkatan kali ini memang merupakan puncak arus balik dari liburan Natal dan Tahun Baru di Manado. Secara bergantian gue dan A mengantri tiket atau menjaga tas-tas kami yang ditinggal bersama abang ojeg. Pheeew.., setelah menunggu selama 2 jam lebih (sambil menahan lapar, pedih di mata, panas, serta emosi akibat kekecewaan dengan sistem penjualan tiket pelni yang lelet plus tidak sistematis) tiket kelas ekonomi itupun telah terpegang.

Sisa perjalanan hanya sekitar 10 menit hingga sampai di pintu masuk Pelabuhan Bitung, tempat KM.Ngappulu bersandar. Dari jauh sudah tampak keramaian penumpang yang hendak menaiki kapal. Dan kamipun bergegas mengikuti arus penumpang yang hendak menaiki kapal.

Duaarrr.. bayangan gue (tentang kenyamanan merebahkan diri diatas matras bubar sudah ketika mendapati bahwa dek-dek ekonomi itu telah terisi penuh dengan penumpang, bahkan melimpah hingga ke gang-gang yang ada disekitar dek. Ruanganpun terasa pengap. Okay Fy, petualangan loe baru saja dimulai, hati ini membatin. Kaki kami pun terus melangkah secara hati-hati, takut menginjak barang-barang atau orang-orang yang sedang tiduran dilantai. Mata celingak-celinguk mencari celah kosong buat badan dan barang-barang kami. Aah syukurlah, sampai di lantai 3 yaitu dek kelas dua kami melihat space cukup untuk dua badan berbaring. Lapak kami berada di gang sempit tempat orang lalu lalang, namun lumayan nyamanlah karena lantai berkarpet dan udara cukup sejuk dan tidak pengap seperti di kelas ekonomi. 

Perut kenyang, setelah diisi nasi ayam siap saji yang kami beli dari para penjaja makanan yang berseliweran. Dan kantukpun menyerang tak tertahankan. Sekitar pukul 15.00 WITA kapal mulai meninggalkan dermaga, namun sebelum kapal mengeluarkan peringatan tanda keberangkatan gue sudah tertidur pulas (berselimutkan sarung pantai, berbantal ransel dan memeluk 'guling' tas kamera) membayar tagihan begadang semalam.

Setelah mengarungi lautan selama 8 jam, akhirnya sang kapal singgah sekitar 2 jam di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate sebelum melanjutkan perjalanan lebih ke timur. Ya disinilah tempat pertemuan kami dengan sang leader Mr.E the explorer, yang tiba lebih dulu sehari sebelumnya, setelah berekspedisi ke Tanah Papua. Rencana kedua terealisasi tanpa halangan, gue pun bisa bernafas lega. Dan selanjutnya gue tinggal berdoa semoga kami betiga bisa membawa diri, meningat ini pertama kalinya kami mengadakan trip bersama, dan di daerah yang baru pertama kali kami datangi ini.

FYI : Manado-Ternate by Pelni bisa save money sekitar 500an ribu dibandingkan naik pesawat.


<Day #2, 05-01-08>
North Molluccas

Nama Maluku berasal dari kata Al Mulk yang berarti Tanah Raja-Raja. Secara historis kepulauan Maluku terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Julukan untuk propinsi Maluku adalah 'Negeri seribu pulau' karena terdiri ribuan kepulauan. Kali ini gue berkesempatan untuk mengunjungi propinsi Maluku Utara dulu.

Propinsi Maluku Utara yang ber ibu kota Ternate, terdiri dari :
- Kabupaten Halmahera Barat
- Kabupaten Halmahera Selatan
- Kabupaten Halmahera Tengah
- Kabupaten Halmahera Timur
- Kabupaten Halmahera Utara
- Kabupaten Kepulauan Sula
- Kota Ternate
- Kote Tidore

Langit sedikit berawan tebal ketika pagi itu kami tiba di pelabuhan kapal Gamalama, tempat berlabuhnya speedboat-speedboat dengan tujuan Sidangoli, Halmahera Tengah. Cuaca merupakan faktor penting bagi kami, karena tujuan kami kesini adalah berwisata sambil hunting foto.Tujuan pertama kami di Maluku Utara ini yaitu nyebrang ke Pulau Halmahera, tepatnya ke kota Tobelo yang berada di Halmahera Utara.

Speedboat adalah transportasi umum yang banyak digunakan untuk mencapai daerah lain antar kepulauan. Selain faktor jarak, ongkos menaiki speedboat ini (terkadang berubah dari tarif umum yang ditentukan) juga dipengaruhi oleh faktor cuaca yang berpengaruh kepada tingginya gelombang laut. Jika gelombang laut tinggi, maka jumlah penumpang harus berada dibawah quota maksimum kapal demi keselamatan, dan penumpang pun harus maklum kalo ongkos lebih harus dikeluarkan demi menutupi biaya bahan bakar kapal.

Dan pagi ini mau tidak mau kami mengeluarkan biaya sedikit lebih dari ongkos standar. Tapi untunglah gelombang yang kami rasakan selama perjalanan sama sekali tidak mengganggu kenyamanan penyebrangan. Seperti yang dijanjikan awak speedboat, 30 menit tepat kemudian kami sudah berlabuh di Sidangoli. Dengan menyambung becak, kamipun menuju ke terminal mobil Sidangoli. Untuk menuju kota Tobelo perjalanan dilanjutkan dengan menumpang oto-oto yang melayani trayek kesana.  Saat ini giliran oto Panther yang melayani perjalanan kami. Sambil menunggu sang oto dipenuhi penumpang, kami pun duduk-duduk sambil mengobrol di pinggiran suatu warung. Satu orang penumpang yang sedang sama-sama menunggu pun ikut gabung mengobrol.Pria itu bekerja di salah satu perusahaan tambang yang ada di daerah Halmahera Utara. Dan darinyalah kami mendapat sedikit informasi mengenai Kesultanan Ternate dan sekitarnya. Tak terasa lagi asyik mengobrol, kami pun dipanggil ke mobil karena jumlah penumpang oto sudah memenuhi quota.

Sebelum ke kota Tobelo kami hendak mampir dulu di kota Kao yang memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan mobil naik turun dan sedikit berkelok melintasi perbukitan. Jalanan cukup sepi, hanya seskali kami berpapasan dengan mobil-mobil yang lain. Duduk di kursi paling pinggir dekat jendela yang terbuka, gue hirup dalam-dalam udara yang masih sepi polusi itu sambil menikmati terpaan angin yang menampar muka dan mata sibuk merekam pemandangan yang tersedia selama perjalanan. Hati ini sungguh bergairah membayangkan apa saja yang akan kami temui nanti.

Turis Yang Aneh

Kedatangan kami bertiga di terminal bayangan sekaligus pasar kecamatan Kao cukup mencuri perhatian anak-anak yang berada diseputar pasar. Rasa ingin tahu mereka membuat mereka bergerak mendekati kami, dari satu dua orang anak hingga kemudian bertambah menjadi sekumpulan. Sepertinya kota kecil mereka ini jarang didatangi tamu, terlebih tamu lokal seperti kami.

Matahari pas diatas kepala, dan cacing-cacing di perut ini mulai memberontak, ya sudah saatnya makan siang. Kami pun menyambangi warung makan terdekat yang ada di pasar itu. Hanya tersedia nasi dan lauk pauk yang sederhana. Tak apa, kami bukan pemilih-milih makanan, apalah ditempat yang memang tidak ada pilihan ini. Kami langsung bersantap begitu piring-piring yang sudah lengkap terisi nasi, lauk dan sayur dihidangkan. Sekumpulan anak-anak kecil yang dari tadi mengikuti kami, berdiri berjejer di depan warung menonton kami yang sedang makan sambil bercakap-cakap. Beberapa anak perempuan yang saling berdiri bersisian tampak saling bercakap-cakap, ada seorang yang berbisik-bisik sambil pandangan matanya menatap kearah gue. Gue sedikit jengah. Setelah balik memperhatikan mereka dan menangkap mimik muka mereka, akhirnya gue tau apa yang mereka perhatikan. Kawat gigi. "Wanita yang ajaib, aneh dan malang.." mungkin itu yang ada di dalam benak mereka. Ah, biarlah gue menjadi hiburan mereka di siang bolong ini. Dan gue pun sering-sering melemparkan senyum ke mereka sehingga mereka bisa puas melihat. Entah akhirnya rasa penasaran mereka terpuaskan atau malah jijik! 

Alasan kami berhenti di kota Kao :

- Melihat bangkai Kapal barang Jepang Tosimaru sisa Perang Dunia II di desa Sosol- Malifut

- Menyebrang ke Pulau Bobale yang mempunyai pantai yang indah dan juga ada bungker peninggalan Jepang ketika PD II.
  Namun ketika kami sampai di desa Baru, tempat dermaga penyebrangan ke Pulau Bobale,   perahu cepat yang membawa penumpang kesana baru  saja meninggalkan dermaga.Sehingga terpaksa pulau Bobale hanya bisa kami pandangi dari jauh saja.

Hari sudah sore ketika kami tiba di Kota Tobelo yang berjarak sejam dari kota Kao dengan menggunakan angkot. Dan kami pun bermalam di kota ini.

<Day #3,060108>
(Mungkin) Pengalaman Sekali Seumur Hidup

Di kamar, sekembalinya dari hunting sunrise yang gagal karena kesiangan dan membeli jajanan kue di pasar yang tidak jauh daripenginapan kami, gue baru nyadar kalo Handphone yang gue selipkan di kantong celana sudah tidak ada lagi, entah terjatuh di bentor atau di pasar..

Sekitar jam 9 pagi, dengan membawa perlengkapan seperlunya (baju untuk menginap 1-2 hari, sisanya dititip di hotel) di daypack, kami menuju ke Pelabuhan Tobelo yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Pulau Morotai adalah tujuan kami hari ini.

---

Pulau Morotai

Pulau Morotai merupakan salah satu pulau terluar di sebelah utara Indonesia, yang berbatasan dengan samudera Pasifik di sebelah utara, Laut Halmahera di sebelah Timur dan Selat Morotai di sebelah selatan.

Pulau ini namanya menjadi besar karena menyimpan sejarah pada jaman Perang Dunia II yaitu perang antara Jepang terhadap Amerika Serikat dan Sekutunya. Jendral Mac Arthur menjadikan pulau ini sebagai tempat konsolidasi ratusa ribu pasukannya, baik di darat, laut maupun udara. Dan sisa-sia peninggalan PD II tersebut salah satu yang 'dijual' didaerah ini selain dengan keindahan alam pantainya dan alam bawah lautnya. Pulau-pulau yang terkenal akan keindahan pantai dan alam bawah lautnya itu antara lain, Pulau Zum-zum, Pulau Dodala besar dan pulau Dodola kecil, Pulau Kokoya, Kolorai, Ngale-ngale dll.

----

Namun sayangnya bangkai-bangkai perlengkapan perang tersebut sudah sulit ditemui karena sempat diangkut secara besar-besaran di tahun 70-90 oleh salah satu perusahaan baja indonesia dan juga sudah dilebur menjadi souvenir khas Morotai. Jelas, sebuah quote yang menyatakan Negara besar adalah negara yang menghargai sejarahnya tidak berlaku disini.

Tidak banyak yang sempat kami singgahi disini selain ke kolam air kaca dan salah satu pantainya (lupa namanya). Kolam air kaca berupa kolam mata air yang mempunyai air yang jernih sehingga dasarnya kolam yang dangkal bisa terlihat. Kolam sangat kotor dan di beberapa tempat terlihat sampah-sampah mengambang diatas air. Letaknya yang lumayan teduh dan sedikit tersembunyi ini mungkin pantas dipakai untukbertapa..

Namun kejutan yang menggairahkan menanti kami penghujung hari, ketika kami hendak hunting sunset di tepi pantai yang menghadap ke pulau Kokoya dan Zum-zum. Kecil harapan untuk mendapat sunset yang bagus karena terlihat awan kelabu dilangit. Tapi kami tetap duduk menanti senja datang. Sambil menunggu sang surya terbenam kami sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Si A dengan kameranya sibuk mengabadikan aktifitas sekitar, karena kebetulan tempat kami nongkrong sore itu ada di lokasi perumahan penduduk, si E sibuk dengan rokok dan handphonenya, dan gue sendiri hanya duduk di tembok yang membatasi lautan daratan sambil melamun dengan mata memandang ke arah pulau-pulau dan perahu-perahu yang sesekali melintas. Tiba-tiba langit yang berada di sebelah kiri pulau Kokoya bertambah gelap, 'o..o' sepertinya akan ada badai pikir gue. Dan ketika gue memandangi awan gelap tersebut ekor mata gue menangkap bentuk awan yang tipiiis sekali dan memanjang ke arah laut, dari jauh terlihat seperi benang. Pandangan mata itu langsung gue laporin ke teman-teman. Pertama mereka hanya menyangka awan biasa, tapi kok ya makin lama garis itu semakin menebal dan berbentuk corong. TORNADO! Insting pun langsung bermain, kamera dan tripod segera dipersiapkan. Kami menyebar mencari spot masing-masing untuk motret. Kabur ? itu pilihan kedua jika ternyata tornado mengarah ketempat kami..

Wuiihh.. sungguh beruntung bisa merekam fenomena alam ini yang jarang-jarang kami temui ini, bisa jadi hanya sekali seumur hidup.Jika saja kami datang beberapa minggu sebelumnya ke pulau ini mungkin ceritanya akan lain, karena tornado sempat menghantam daerah
sekitar penginapan kami.

Tak begitu lama sesampainya kami di penginapan, hujan pun turun dengan derasnya, diikuti dengan putusnya aliran listrik.

<Day #4, 07-01-08>
Sekali mendayung 2,3 pulau terlampaui

Di pagi hari kami sempat berniat untuk menyebrang ke pulau zum-zum sebelum pulang kembali ke kota Tobelo. Tetapi perahu yang kami sewa gagal membawa kami kesana, karena mesinnya tidak mau berfungsi. Takut ketinggalan kapal yang akan membawa kami pulang, haluan perahu diputar kembali kearah daratan.

Panas yang menyengat kulit, langit biru terang serta gugusan awan putih yang membentuk lukisan indah di langit memayungi kepala kami di pelabuhan Tobelo. Suasana yang sangat tepat untuk hunting foto. Dan cukup hanya menyewa 1 becak motor saja kami berkeliling mencari obyek wisata disekitar Galela yang berjarak 20 km dari kota Tobelo. Di perjalanan antara Tobelo-Galela kami melihat sisa-sisa kerusuhan antar agama yang terjadi di tahun 2000 lalu. Beberapa Gereja yang dulu terbakar kini hanya tersisa puing-puingnya saja. Semoga saja sejarah menyedihkan ini tidak berulang kembali di tahun-tahun yang akan datang. Oh tetap damailah negeriku..

Tiga pantai, tiga telaga, serta satu mata air panas kami singgahi. Terakhir, dengan menyewa katinting kami hunting sunset di pulau Kumo yang tidak berada jauh dari pelabuhan Tobelo. Walaupun sunsetnya tidak begitu bagus hati tetap puas dan senang atas perjalanan hari itu.

Ternyata kegembiraan gue melewati hari itu tidak berhenti disitu saja, di sekitar pukul 8 malam ketika hendak keluar mencari makan gue sempat melihat sebagian langit Tobelo yang tepat berada di atas penginapan kami bertaburkan bintang-bintang. Indaaaaah sekali. Seperti bukan berada di bumi.  Seumur umur baru kali ini gue melihat langit yang penuh dengan bintang yang bertumpuk-tumpuk begitu. Sayang malam itu gue gagal mengambil foto bintang-bintang itu.

Gambaran indah tentang bintang-bintang ini pun terbawa sampai ke alam mimpi..

(foto ini baru bisa gue ambil beberapa hari kemudian di tempat lain di Sulut tapi bintangnya tidak sebanyak seperti di tobelo).


<Day #5, 08-08-08>
Menerjang ombak tiada takut.. (siapa bilang??)

Kira-kira cukup mengambil stock foto di Halmahera Utara, perjalananpun dilanjutkan menuju Sofifi. Kali ini travel oto Innova menjadi tunggangan kami. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Aneh, gue tidak ingat pemandangan apa saja yang gue lewati disepanjang perjalanan, mungkin gue terlalu banyak melamun (atau tertidur?).

Sampai di terminal Sofifi seharusnya kami berganti kendaraan dan kembali menggunakan travel mobil menuju kota Weda (Halmahera Tengah) dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 4 jam. Tetapi setelah menghitung2 waktu yang begitu mepet (mengejar jadwal kapal Pelni yang akan kembali berlabuh di Menado) kami pun tidak jadi melanjutkan perjalanan. Tujuan awal yaitu ingin melihat goa alam Sagea yang berada di kota Weda. Konon dalam goa ini terdapat bebatuan yang mengkristal dengan warnanya yang unik bila dikenai cahaya lampu.

Terminal mobil ini sekaligus merupakan pelabuhan kota Sofifi dengan trayek speedboat tujuan kota Tidore dan Ternate. Dan kami memilih mengunjungi kota Tidore. 'Angin sudah datang', kata si awak kapal. Ah itu artinya kami harus segera berangkat dan kapal pun tidak bisa menunggu sampi penumpang penuh, dan seperti peraturan tak tertulis kamipun harus membayar ongkos sedikit lebih mahal.

Daashh.. Dasssh.. Benar saja, hempasan kapal begitu terasa setelah terjangan ombak yang lumayan besar. Gelombang laut kali itu sekitar 0,5 - 1 meter lebih. Kami yang berada di dalam kapal seperti berada di dalam perut kodok yang sedang melompat. Suasana membuat seluruh penumpang waspada. Terlebih gue, yang baru pertama kali ini mengalami gelombang tinggi. Guncangan kapal membuat beberapa muka penumpang sedikit pucat, dan diantaranya terlihat bibir yang bergerak komat-kamit mengucapkan doa. Seorang ibu yang duduk berhadapan di depan gue mukanya tampak antara menahan tangis dan takut yang amat sangat. pemuda yang kebetulan duduk disebelahnya harus merelakan tanggannya dipegang erat-erat oleh sang ibu. Wah, nyali gue turut menciut, gue pikir goncangan cukup parah sampai-sampai penduduk setempat yang sering menyebrang lautan ini pun terlihat takut-takut.

Otak gue pun sibuk berpikir. Bagaimana jika kapal ini tenggelam atau terbalik? Bagaimana caranya orang-orang menyelamatkan diri? Pintu keluar kapal hanya ada satu. Pasti orang-orang akan saling berebutan keluar. Lewat jendela tidak mungkin, karena tidak akan muat meloloskan satu badan. Hiih.. Membayangkan orang yang meninggal kehabisan napas dan tenggelam sungguh mengerikan.     

Perjalanan normal ke Pulau Tidore hanya memakan waktu 30 menit. Tapi kali itu terasa berjam-jam lamanya, bahkan seakan-akan speedboat tidak melaju-laju karena terhadang ombak. Mendekati perairan pulau Tidore hujan pun sempat turun. Dibawah gerimis hujan speedboat pun akhirnya mendekati pelabuhan Kotabaru Tidore. Alhamdulillaah penderitaan itu berakhir juga. Tampang lega menghiasi sebagian penumpang.

Sebelum kapal benar-benar merapat, seorang bapak yang duduk tidak jauh di hadapan gue sempat berkomentar kepada kami. Katanya kapal speed ini tidak akan tenggelam atau terbalik karena terbuat dari fiber, yang sering terjadi jika terlalu keras menghantam ombak besar lambung kapal ini pecah. Ah, thanks atas infonya Pak! Lain kali jika gue mengalami situasi yang sama dikemudian hari, gue tidak akan susah-susah lagi membayangkan penyelamatan diri yang sempat menguasi benak gue tadi. Hmm, mungkin skenario yang lain lagi..


<Day #6, 09-01-08>
To ado re.. 'aku tlah sampai'

Nama Tidore berasal dari gabungan dua buah rangkaian kata bahasa Tidore dan Arab dialek Irak. Bahasa Tidore, to ado re,  yang artinya 'aku tlah sampai' dan bahasa Arab dialek Irak anta thadore yang berarti 'kamu datang'.

Keliling Maluku Utara tanpa menginjak pulau Tidore rasanya belum lengkap. Dulu, belum terbayangkan oleh gue dimana dan bagimana letak kota Tidore itu. Kemudian kata Tidore semakin akrab ditelinga ketika mempunyai seorang teman kerja yang asli produk lokal kota ini. Dia sering bercerita tentang kehidupann di kota kelahirannya. Jujur, sekitar tahun 2006 gue
baru tau gambaran pulau ini melalui gambar yang ada di selebaran uang ribuan kita, informasi ini pun didapat oleh ia ketika kami sedang tugas luar kota bersama.

Ya Tidore, akhirnya aku mendapat kesempatan melihat secara langsung kotamu. Selain melihat benteng Tohula, Museum Kesultanan Tidore Sinyine Malige, Kadaton, yang paling berkesan buat gue yaitu ketika berkunjung ke desa Gurabunga yang berada disekitar gunung Kiematubo untuk melihat rumah tradisional yang terbuat dari batang bambu.

Desa Gurabunga ini berada di ketinggian 600 mdpl, disekitar Gunung Kiematubo (1730 mdpl). Perjalanan menuju desa tersebut menanjak terus, kemiringan jalan mungkin sekitar 30 derajat, jadi cukup curam. Bahkan tadi ketika kami sedang mencari kendaraan motor yang bisa membawa kami kesana, tidak semua ojeg motor sanggup. Karena medannya lumayan berat, motor yang kesana harus benar-benar sehat demi keselamatan. Semakin mendekati desa tersebut udara pun semakin terasa sejuk. Setelah melalui daerah perumahan di kiri dan kanan jalan kemudian kami melewati perkebunan Pala. Pohon-pohon tersebut sedang berbuah. Baru kali ini gue lihat pohon dan buah pala secara langsung. Sekilas dari warnanya yang kuning gue sempat menyangka bahwa itu adalah buah jeruk atau mangga..

Seiring waktu, sudah tidak banyak lagi penduduk yang menggunakan batang bambu sebagai dinding rumahnya. Bahkan mungkin sudah jarang, ini dilihat bahwa kami harus bertanya-tanya dulu kepada penduduk dimana rumah yang berbatang bambu. Ya selebihnya rumah beton yang biasa kita lihat. Rumah batang bambu yang antar penghubung kerangkanya diikat dengan tali temali ini bukan asli dari Tidore tapi berasal dari Jawa berabad-abad silam. Desa Gurabunga ini juga dikenal dengan kabutnya. Dimalam hari desa ini sering diselimuti kabut bahkan hingga matahari sudah nongol. Gue membayangkan bagaimana dinginnya tinggal di rumah penduduk yang berbatang bambu itu.

Hmm.. someday jika gue datang lagi kesini, coba bermalam di desa ini  aaahhh...

Ketika ojeg membawa kembali kami turun ke kota, jika posisi tepat kami bisa melihat kota ternate dari atas. Dengan berpegangan erat ke badan motor, gue menjaga posisi badan jangan sampai meluncur ke depan hingga membebani si tukang ojeg. Takut si abang menjadi tidak konsen ngojegnya. 

Sore harinya perjalanan dilanjutkan kembali menuju kota Ternate. Cukup menggunakan angkot yang lewat di depan penginapan, untuk mencapai pelabuhan Rum tempat mangkalnya speedboat yang menuju pelabuhan Bastiong Ternate. Setelah mampir ke pelabuhan Ahmad Yani untuk membeli tiket kapal, mencari penginapan, sisa sore hari itu kami gunakan untuk duduk-duduk santai di dermaga kayu yang berada didekat Swering sambil menikmati panorama pulau Tidore dan Maitara di seberang laut, dan juga menonton keceriaan anak-anak yang berenang dan bersenda gurau di dermaga tersebut.


<Day #7, 10-01-08>
Di akhir kesempatan

Menurut informasi yang kami baca kemarin, Kapal Ngappulu akan berangkat dari Pelabuhan Ahmad Yani pada pukul 14.00 WIT. Jadi masih ada kesempatan bagi kami untuk berkeliling. Alih-alih berkeliling seputar Ternate, kami menyempatkan menyebrang kembali ke pulau Halmahera, tepatnya di kota Jailolo, Halmahera bagian barat, untuk melihat rumah adat Sasadu dan Kesultanan Jailolo. Antara pelabuhan Dufa-dufa dan Jailolo memakan sejam perjalanan. Sesampainya di pelabuhan Jailolo, kami mencari informasi jadwal penyebrangan kembali ke Ternate, jadi kami bisa mengira-ngira waktu yang kami punya untuk berkeliling. Setelah dihitung-hitung kami punya waktu sekitar 1,5 jam.Karena pertimbangan praktis, lagi-lagi kami menggunakan ojeg motor.

Sasadu adalah Rumah Adat Khas Daerah Maluku Utara yang digunakan masyarakat Kecamatan Sahu dan Jailolo sebagai tempat upacara adat pada saat panen raya dan tempat berkumpulnya masyarakat adat untuk musyawarah. Rumah adat ini bisa ditemukan di desa Gamtala, Toboso dan Lolori, Jailolo. Informasi dari abang ojeg, kota Jailolo ini juga terkenal dengan kelezatan durennya.Konon, satu pulau ini bisa berbau buah tersebut jika musim duren tiba. Sayang gue berkunjung tidak di musimnya.

Setelah cukup melihat-lihat beberapa rumah adat Sasadu perjalanan diteruskan menuju Kesultanan Jailolo yang berada di desa Soakonora. Ada sedikit kejadian yang bikin gue tersenyum tadi. Ketika gue sedang mencari informasi seputar rumah adat tersebut melalui seorang pemuda penduduk lokal, seorang bapak-bapak datang menghampiri. Dari mukanya terlihat bahwa ia ingin membantu memberikan informasi. Tetapi sebelum menyapa gue, dia bertanya dulu ke pemuda yang sempet mengobrol dengan gue tadi. "Bisa bahasa Indonesia tidak?" tanyanya dengan tangan menunjuk ke arah gue. Hihi, lagi-lagi gue disangka turis bule yang sedang melancong. Sempat timbul pikiran untuk ngerjain bapak-bapak tadi dengan berpura-pura jadi turis bule. Tapi melihat niat baiknya, niat iseng tadi pun gue urungkan. Kemudian dengan penuh kebanggaan bapak-bapak tadi menerangkan arti sebuah lambang yang tergambar di tugu yang tidak jauh berada di rumah adat itu. Ah, terima kasih Bapak..

Nama besar Kesultanan Jailolo tidak sebesar Keratonnya. Mungkin yang paling sederhana diantara Kesultanan Ternate, Kesultan Tidore dan Kesultanan Bacan. Yang menerangkan bahwa bangunan tersebut adalah Kesultanan Jailolo dengan melihat lambang kerajaan yang tergambar di bendera yang berkibar di depan Kesultanan tersebut.

Turun dari ojeg motor tadi kami langsung disambut dengan Sang Permaisuri Jailolo itu sendiri. Sang Permaisuri sudah cukup sepuh, tapi semangat jiwanya yang muda masih menyala-nyala. Dengan bertumpu di lengan gue, sang permaisuri pun menemani kami berkeliling melihat-lihat keadaan seputar istana. Kesultanan Jailolo ini berada di pinggir pantai dan ada sebuah sungai di sebelah kanannya. Sang Permaisuri terus mengajak kami mengobrol sembari berjalan, sesekali sempat dilontarkan ucapan-ucapan yang cukup kocak. Mungkin ia menganggap kami ini anak-anaknya yang sedang pulang ke rumah selepas merantau di negeri orang (hiperbola ). Dengan ramahnya ia berkali-kali menawari kami untuk singgah di istananya dan santap siang bersama. Tawaran yang sungguh menggoda mengingat memang pas waktunya makan siang, tetapi sisa waktu kami telah habis, sudah waktunya untuk pulang kembali ke pelabuhan.

Pukul 13.30 WIT kami sudah sampai kembali ke kota Ternate. Sebelum mengambil barang-barang kami yang ditinggalkan di penginapan kami mampir dulu ke pelabuhan untuk memastikan apakah Kapal yang akan membawa kami ke Menado sesuai dengan jadwalnya. Benar saja, kapal Ngappulu baru akan bersandar di dermaga ini pada pukul 12 malam!. Okeeh.. artinya kami masih punya kesempatan untuk berkunjung ke obyek-obyek wisata yang ada di kota Ternate ini. Secara baru E yang sempat berkeliling kota ini, gue dan A bahkan belum sempat berkeliling.

Sebelum petang datang, akhirnya kami hanya sempat mengunjungi Benteng Kalumata dan Laguna. waktu lebih banyak dihabiskan di Laguna, karena kami sempat trekking dulu untuk mencari posisi yang enak untuk memotret Laguna dari atas. Malam harinya kembali ke Swering mencari jajanan sebagai makan malam kami.

Lewat tengah malam, Kapal Ngappulu mulai meranjak secara perlahan meninggalkan pelabuhan. Seakan tak rela dan belum puas, mata kami terus memandangi kerlipan lampu-lampu kota Ternate sampai terlihat seperti titik-titik dan akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam. Hmmm.. Kenangan akan perjalanan di gugusan kepulauan yang unik dan indah ini pasti tidak akan kami lupakan.

Goodbye Moluccas, when will i see u again ?!!                   

 .................. B e r s a m b u n g

 

Foto seputar Halmahera bisa diliat disini

Kejutan di Morotai

Keliling Tidore

Foto Rumah Adat di Jailolo

Mampir di Ternate


 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.