Gue ingin mengulangi perjalanan 3 tahun yang lalu ke daerah ini. Kali ini ditemani oleh mbak Endah, sebelum gue dateng ke kota makassar gue sudah menebar racun ke beberapa teman-teman, akhirnya cuma mbak Endah yang terjerat
.
Dan waktu itupun tiba. Tanggal 21 Sept gue menjemput mbak Endah di Bandara Sultan Hasanuddin. Berhubung gue sedang tidak puasa maka bisa menemani si mbak santap siang. Menu pilihan si mbak adalah coto di jl. Pettarani. Setelah perut terisi maka kami berdua diantar ke terminal di daerah Sungguminasa yang akan membawa kami ke tujuan, yaitu Tanjung Bira.
Dimana Tanjung Bira?
Tanjung Bira terletak di daerah paling selatannya Sulawesi Selatan. Dengan lokasi berjarak sekitar 42 Km dari Kota Bulukumba. Total perjalanan dari kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 - 3,5 jam.
Biaya transportasi umum :
- Makassar-Bulukumba = Rp. 35.000 (Mobil Kijang/Panther/Innova)
- Bulukumba-Tanjung Bira = Rp. 8.000 - Rp. 10.000 (petepete)
Dengan menumpang mobil Kijang, kami memulai perjalanan siang itu. Kami beruntung, mobil tidak penuh sesak oleh penumpang, hingga kami bisa ngobrol dan leluasa bergerak sepanjang perjalanan. Oiya, angkutan umum kesana tidak ada jurusan trayek yang tertera di body mobil hanya dapat dicirikan dengan no polisi plat kuning.
Perjalanan melewati kabupaten Gowa-Takalar-Jeneponto-Bantaeng-Bulukumba. Pemandangan di jalan pun banyak obyek yang menarik mata. Hamparan luas persawahan, padang rumput dengan pohon-pohon lontar berdiri tegak, perkebunan, kumpulan kuda-kuda, tambak garam dan laut disisi sebelah kanan.
Setibanya di Bulukumba harusnya kami menyambung mobil menggunakan petepete, namun karena hari sudah sore tidak ada petepete yang sedang mangkal di terminal. Tinggal kami berdua penumpang yang bertujuan akhir Tanjung Bira. Setelah bernego, akhirnya sang sopir mau mengantar kami sampai tujuan akhir.
Tiba di Tanjung Bira ketika matahari mau terbenam. Dengan cepat turun dari mobil, langsung turun ke pantai untuk mengabadikan sunset. (Foto2 pantai Bira).
Setelah motret sunset, kami mencari penginapan yang
mempunyai akses langsung ke pantai, dan dengan cepat kami memilih Penginapan Sapolohe.
Sewa kamar standard = Rp. 150.000/malam.
Alarm di set jam 5 pagi. Bersiap-siap untuk hunting sunrise. Dengan mengendarai motor sewaan dan menikmati terpaan angin pagi kami pun melaju ke Pelabuhan Bira.
Sewa motor = Rp. 65.000
Sayang sang matahari tidak menampakkan dirinya karena tertutup
oleh awan tebal. Ah tapi kami tidak kecewa, karena di sekitar pelabuhan ada beberapa obyek yang menarik. Terkenang akan keindahan pelabuhan ini dululah yang membuat gue ingin kembali lagi kesini (Foto di Pelabuhan)
Awan tebal yang menutupi matahari pun membentuk suatu barisan yang menghiasi langit biru. Tak jauh dari pelabuhan, terbentang pantai yang tak kalah cantik.
Jam menunjukkan sekitar pukul 11 siang setelah kami kira cukup buat motret dan menikmati pemandangan. Sebelum kembali ke hotel, kami pun sedikit
menjelajahi daerah dataran tinggi untuk melihat pemandangan dari sebelah atas. Kemudian beristirahat dan mengademkan badan sejenak di hotel, kami pun melanjutan sesi berikutnya. Yaitu ke Pantai Bira untuk sesi foto narsis!!
.
Hehe.. gara-gara sesi foto ini akhirnya kami pun late check out (sekitar jam 3 sore) dari hotel. Untunglah kami tidak dibebankan biaya tambahan, mungkin juga karena sepinya tamu. Menikmati makan siang yang terlambat di restoran Anda sambil nego mobil sewaan untuk pulang. Ya, kami terpaksa menyewa mobil karena hari sudah sore tidak ada lagi angkutan umum yang beroperasi. Mahal untuk perjalanan sekitar 4 jam, tapi ya apa boleh buat....
Sewa mobil Tanjung Bira-Makassar = Rp. 500.000.
Keuntungan dari menyewa mobil sendiri adalah bisa berhenti dimana saja bila ada obyek yang menarik bukan? Ya, itu sudah ada di benak kami masing-masing. Malah sudah ada daftar tempat-tempat yang kira-kira akan kami singgahi. Tapi sayang, hari sudah terlalu sore, sudah terlalu gelap untuk motret. Namun kami tetap mampir ke tambak garam di daerah Jeneponto karena si mbak Endah penasaran sama butir-butir garam yang terkumpul di sekitar tambak. Dengan lampu sorot tambahan dari mobil, kami turun ke tambak untuk motret seadanya.
Sampai di Makassar makan malam bersama dengan menu Palu Basa. Kemudian mbak Endah masih bisa mengejar bis untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Sayang gue gak bisa menemani karena esok harinya gue harus kerja. Gue dan mbak Endah meneruskan hunting bersama lagi hari senin tanggal 24 Sept sebelum sorenya pulang kembali ke Jakarta.
Puaskah gue ke Bira? Tentu tidaaaaak... :). Secara ada beberapa obyek yang terlewatkan, baik untuk sekedar dinikmati atau diabadikan. Next time, jika ada waktu dan kesempatan, ingin menikmati ini :
- Nyebrang ke Pulau Selayar untuk melihat sisa peninggalan sejarah atau snorkeling dan diving di Kawasan Taman Nasional Takabonerate.
- Ke pemukiman suku Kajang di Bulukumba.